Proyeksi Generasi Khoiru Ummah Yang Alim, amilan bima alima bihi
Beberapa kegelisahan dari berkembangnya zaman yang begitu cepat, membentuk budaya dan kultur masyarakat yang begitu kompleks. Mulai pudarnya pondasi-pondasi agama pada generasi-generasi muda dibuktikan dengan minimnya kemampuan akademik maupun non-akademik, serta kemerosotan moral yang begitu signifikan dalam lingkup pedesaaan menjadi titik awal para inisiator untuk mendirikan lembaga pendidikan yang bernafaskan islam, sehingga dapat menfasilitasi tumbuh kembangnya generasi muda di wilayah desa Wonoasri. Untuk itu, membangun model pendidikan yang mampu mencetak generasi khoiru ummah ilman wa adaban merupakan salah satu hal yang menjadi urgensi pendidikan di yayasan nurussalam wonoasri. Representasi pada generasi khoiru ummah adalah lahirnya generasi terbaik dimasa yang akan datang. Indikator utama dalam meng indikasikan generasi yang kita bentuk ini khoiru ummah atau tidak adalah ada pada akhlak. Sehingga, modal awal untuk mencetak generasi khoiru ummah adalah dengan mendidik anak dengan akhlak yang baik, yang sesuai dengan tuntunan al qur'an dan al hadist. Kedua, adalah dengan memberikan uswah/teladan akhlak yang baik kepada anak-anak, sehingga di satu sisi anak-anak diberikan pengetahuan terkait akhlak yang baik, disatu sisi mereka dapat melihat secara nyata bagaimana akhlak yang baik dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga, membentuk miliu dan lingkungan akhlakul karimah dalam setiap gerakan yang terekam dalam otak mereka dengan akhlak karimah, baik di sekolah maupun di rumah.
Representasi intelektual adalah lahirnya generasi yang mampu berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, komunikatif, dan mampu memecahkan masalah pada setiap diri anak-anak. Goalnya generasi saat ini bukanlah pada pintarnya anak-anak. Tapi lebih pada bagaimana anak-anak kita mampu beradaptasi dengan lingkungan dengan cepat, sehingga dapat menganalisa kebutuhan pribadi mereka akan kekurangan dan kelbihan mereka di zaman mereka, dan kemudian mereka mampu secara komunikatif menyampaikan ide-ide, gagasan yang mereka punya. Akhirnya, mereka mampu bersaing secara individu ataupun kolaboratif dalam rangka memenangkan setiap kejadian-kejadian yang mereka alami, dan mampu memecahkan setiap masalah yang mereka hadapi. Dengan demikian, tentu kita sebagai guru juga harus memiliki kemampuan 4c tersebut, agar supaya dapat mengajarkan kepada anak didik kita kedepan.
Representasi dari berjiwa qur'ani adalah lahirnya generasi yang tidak gagap alqur'an. Sejak dini anak-anak kita diwajibkan untuk sudah bisa membaca dan menulis huruf hijaiyah. Dengan demikian, anak-anak akan terbiasa mendengar, membaca alqur'an sejak dini. Jika sudah terbiasa membaca dan mendengar, harapan kedepannya adalah kelak mereka akan terbiasa mencari, menganalisa setiap ayat alqur'an yang dapat dijadikikan rujukan dalam pemecahan masalah dalam setiap kehidupan mereka. Bukankah kita percaya alquran adalah sumber dari segala sumber ilmu dan solusi di muka bumi ini? Jika kita belum percaya, maka ada yang salah dengan rukun iman kita. Program tahfidz yang telah kita implementasikan saat ini, sesungguhnya adalah hanya sebagai alat untuk memotivasi dan mengikat anak-anak kita untuk tetap ingat, dan tetap melaksanakan nilai-nilai yang terkandung dalam setiap ayat pada alqur'an.
Maka dengan demikian, kita berharap kedepan kita betul-betul dapat mencetak generasi yang berkhlak karimah, memiliki kemampuan berpikir kritis, dan tentunya memilik pondasi alquran yang kuat sebagai penyeimbang antara akal dan hati pada setiap manusia.